Rabu, 13 April 2011

Pacaran dalam Islam


PACARAN MENURUT ISLAM


Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus    ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.
Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.
Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement(tunangan).
Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?
Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !
Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : “Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah.” (HR Ahmad dan Abu Daud).
Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: “Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya.” Tabranidan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: “Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati.”
Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba “berdalih” dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daudberikut : “Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atawa memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya.” Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi “dunia berpacaran” mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi “perahu pacaran” itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan “mencintai karena Allah” tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai “mencintai karena Allah ?” Jawabnya jelas tidak !
Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.

Senin, 11 April 2011

kehilangan......

apa arti sebuah kehilangan...????
cuma sakit yg bisa terucapkan.....
cuma tangis yg bisa terungkapkan....
aplagi kehilangan seorang teman......
sedih yg terasa tak terperikan.....
tangis yg keluar tak terbendungkan.......
kehilangan.....
aku tlah kehilangan,,,,,
kehilangan teman....
cuma dlm hati ku bertanya.....
kenapa????? kenapa????
tak kutau apa sebabnya....
mungkin benar kata pepatah.....


jika kau ingin menguji kesetiaan seorang teman.....
coba kau lihat.....
ketika ia dapatkan popularitas dan teman baru.....
ia melupakanmu....
dia bukanlah teman sejatimu....
tapi sebaliknya....
jika kau slalu di ingatannya.....
dia sesungguhnya adalah teman terbaik di dunia......
jangan pernah lepaskan dia.....
SELAMANYA............................



sedangkan temanku....
pergi meninggalkanku....
setelah dia dapatkan semuanya......
dia bukanlah teman sejatiku....
tapi hatiku tetap sakit.....
sakit yg tak pernah bisa kujelaskan......
sakit yg tak pernah bisa kuungkapkan......
SELAMANYA............................

Rabu, 09 Maret 2011

T.T

09 februari 2011

sediih......
aku dianggap g' ada.......
apa coba salahku????
ini murni bwt tugas.........
please..........
jangan dicampuri masalah pribadi...........
gimana tugas mo selesei..........
kerja sama aja g' mau..........
namanya juga kerja kelompok khan????
kenapa dia g' ngerti?
benci ama aku????
iya...okey.......
aku g' papa.
tapi tlong jangan campuri rasa benci itu dengan tugas kali ini............
bkan cma aku dan dia yang memerlukan nilai...
tapi ada anggota lain.........
kenapa dia malah begini sih?????
apa sih salahku????

Jumat, 11 Februari 2011

studi kolaboratif yang tak bisa terlupakan

8-9 februari 2010
huah,,,,,,
sayang bgt........
studi kolaboratif yg super seru and menyibukkan cma 2 hari 1 malam..............
padahal cuman sebentar.....
tapi ribuan pengalaman q dapatkan..........
dari yang menyenangkan,,,,
menyebalkan,,,,,,,,,,
menyedihkan,,,,,,,,
sampe yang menantang nyawa,,......
seruuu bgt........
sholat di sarang penyamun,,,,
antre kamar mandi yang menyebalkan,,,,,,,]
sampe hruz menantang nyawa demi kembali ke bungalow,,,,,,,,,,
bungalow yang paling pojok,,,,,,,
sampe malam pengakraban yang menyenangkan............
semuanya g' bsa ditulis satu persatu,,,,,,,,,
Cibodas yang super keren,,,,,,,
dingin,,,,,
tapi seru,,,,,,,,
Puncak yang oks bgt pemandangannya,,,,,,,,,,,
sampe kamera yang habis baterainya,,,,,,,,
ke waduk jatiluhur,,,,,,
tambah wawasan,,,,,,,,
pesiar keliling waduk,...
dapat ilmu ttg satelit dan ttg Indosat..........
sampe ke Plered,
 bwt keramik hias,,,
finishing..........
wawasan yang tak ternilai harganya telah bnyk q dapatkan dari studi kolaboratif ini,,,,,,
diakhiri dengan makan besar 1 angkatan di restoran sunda.........

ini menyenangkan..........
sekaligus melelahkan........

Sabtu, 29 Januari 2011

Jeritan Hati Anak Palestina

                   Jeritan Hati Anak-anak Palestina

Dalam rintik hujan ini,
Aku mendengar tangisan mereka,
Jeritan mereka,
Seruan mereka,
Anak-anak Palestina.

Seruan itu semakin jelas kudengar,
“Dimana kalian, saudaraku di mana kalian?”
“Jangan lupakan kami, saudaraku. jangan lupakan kami!”
“Kami menunggumu saudaraku!”
“Kami menunggumu!“
“Kami akan selalu mennggumu!”

Hatiku teriris-iris,
Sebab pada hari ini begitu banyak umat muslim sedang menikmati tidurnya,
Sedang di belahan bumi lainnya, umat muslim tak mampu bahkan dipaksa untuk tetap terjaga.

Sebab pada hari ini begitu banyak pikiran dan pendengaran umat muslim sedang hanyut dalam keindahan dunia,
Sedang di belahan bumi lainnya, mereka dihibur oleh suara bom dan letupan senjata.

Sebab pada hari ini begitu banyak umat muslim sedang tertawa ria,
Sedang di belahan bumi lainnya, wanita dan anak-anak Palestina tak punya lagi air mata untuk diteteskan, Apalagi untuk tertawa?

Hatiku begitu tersayat-sayat,
Sebab kedua kaki ini hanya mampu melangkah dari Masjid Raya menuju Mandala,
Ia tak mampu sampai ke bumi jihad Palestina berdiri tegak menyelamatkan Al Aqsa.

Sebab kepalan tangan ini hanya mampu membumbung ke angkasa menggemakan takbir pada-Nya,
Ia tak mampu mengangkat senjata dan mengarahkannya ke musuh-musuh yang telah membuat para wanita dan anak Palestina begitu menderita.

Sebab suara lantang ini hanya mampu menggema melawan suara kendaraan di sepanjang jalan sana,
Ia tak mampu berteriak seperti mujahid Palestina di hadapan tank-tank baja.

Wahai Allah,
Pada hari ini kami sedang berbaris di depan jalan sebuah kota,
Jumlah kami mungkin tak banyak, Namun ghirah kami ribuan kali lebih besar dari sekadar nyali para pengecut yang ingin merebut Al Aqsa.

Wahai Allah,
Sampaikan doa dan salam jihad kami kepada mujahid/mujahidah Palestina,
Turunkan bala tentara-Mu sebagaimana tentara perang Badar di bumi jihad Palestina,
Himpunkan dan satukan ghirah kami dalam ruh-ruh mereka yang sedang berjuang di bumi jihad Palestina.

Maka saksikanlah oleh kalian,
Wahai musuh-musuh Allah!
Bahwa ghirah mujahid/mujahidah Palestina hari ini dan akan datang,
Ribuan bahkan jutaan kali lebih dahsyat dari hari sebelumnya,
Kekuatan mereka akan bertambah dan terus bertambah,
Hingga kalian tak‘kan mampu menghitung jumlahnya,
Hingga dari setiap kesyahidan 1 mujahid/mujahidah akan muncul 1000 mujahid/mujahidah baru meneruskan perjuangan mereka,
Hingga bumi pun bergetar menahan derap langkah mereka.

Ketahuilah wahai Israel La’natullah,
Sebutir peluru yang menembus dada seorang mujahid/mujahidah,
Selalu menjadi senyum kemenangan di wajahnya.

Sebab,
Jihad adalah jalan juang kami,
Dan syahid di jalan Allah adalah,
Cita-cita kami tertinggi.
Perjuangan ini tak‘kan pernah berhenti...!